Thursday, October 5, 2017

Review Nursery Room/ Ruang Ibu dan Anak/ Ruang Menyusui

Begitu punya bayi dan beberapa kali bepergian ke tempat umum, jadilah yang namanya nursery room, baby Care, ruang ibu dan anak, mother's room dll apalah namanya itu yang jadi jujugan. Buat ganti popok, menyusui, ngewaslap, atau sekedar nidurin si bayi. Hehe.

Sebenernya untuk semua aktivitas itu nggak harus di nursery room ya tapi pasti ibu dan anak akan lebih nyaman dan aman di tempat macam nursery room itu untuk menyusui, ganti popok dll. Kalo darurat pun saya sering nidurin anak di meja, kursi karena kalo digendong kelamaan kadang dia butuh selonjoran dan juga ngelurusin punggung. Atau saya juga lumayan sering ganti popok di tempat yang seharusnya memang nggak buat ganti popok hehe, tapi karena harus segera diganti ya kreatif nya kita aja menyiasati, asal perlak nggak boleh ketinggalan. Apalagi menyusui...dimanapun dan kapanpun sebenernya juga bisa. Tapi ya kembali ke kenyamanan dan keamanan tadi ya. Kalo di fasilitas umum dikasih nursery room, ya kita manfaatkan lah..

Jadi panjang lebar begono pembukaannya. Intinya mah saya mau nge-share pengalaman di beberapa nursery room. Semoga bermanfaat.

1. Nursery room Mall Kota Kasablanka (Kokas) Jakarta Selatan

Ini nursery room pertama yang dikunjungi bayi Nisa. Letaknya di lantai yang sama dengan lobi KFC, nggak tau itu lantai berapa hehe. Sebenernya cuma mau ngecek popoknya penuh apa nggak. Jadilah saya mampir.. di pintu depannya langsung ada tulisan ladies only atau apa gitu yang intinya menegaskan emak sama bayinya aja yang boleh masuk. Begitu masuk langsung ada petugas yang menyambut. Kayaknya tugasnya mengarahkan emak dan bayinya sekaligus bebersih ruangan. Jadi ruangannya lumayan lebar. Dilengkapi dengan beberapa kasur kecil buat nidurin si bayi yang berfungsi buat ganti popok atau sekedar ngewaslap bayi. Ada banyak keran, kayaknya sesuai sama jumlah kasur kecilnya tadi. Maap lupa2 inget hoho. Ada bilik-bilik menyusui yang jumlahnya lebih dari tiga seinget saya. Jadi nyaman buat menyusui di dalem bilik ataupun buat ganti popok karena kasur/meja ganti popoknya banyak. Dan pas saya di sana memang banyak emak-emak yang memanfaatkan fasilitas nursery room ini.

2. Terminal 1B Bandara Juanda Surabaya
Di bandara Juanda katanya ada beberapa baby care (nama ruangnya ini kalo di Juanda). Di terminal 1A ada satu, di terminal 1B ada satu dan terminal 2 yang katanya ada banyak. Kebetulan bayi Nisa baru nyoba yang di terminal kedatangan 1B, eh di terminal 1B emang cuma ada satu ini ding. Jadi yang dari terminal keberangkatan 1B habis check in trus bisa turun lagi ke deket tempat pengambilan bagasi. Nah baby Care nya deket2 situ, dari eskalator turun ke kanan keliatan kok tempatnya.
Kalo di sini ruangannya standar, ada satu meja/kasur buat ganti popok, sofa, kasur bayi, kran air, dan galon air. Tempat menyusuinya kyknya ya di sofa itu tanpa bilik-bilik. Karena mungkin yang memanfaatkan tidak banyak jadi memang dibikin seperti itu. Lumayan nyaman.

3. Mall Malang Town Square (Matos) Malang

Letaknya agak nyempil dari keramaian, selantai sama foodcourt. Ruangnya lumayan baru sepertinya. Ada tempat ganti popok, bilik-bilik menyusui, sofa tunggu, keran air, galon air. Sayangnya tempat ganti popoknya nggak ada kasur kecil yang biasanya udah dilapisi perlak. Jadi keras deh..Hehe, disiasati pake kain biar agak empukan buat bayi. Nyaman sih dan bersih meskipun agak mungil ruangannya.

4. Museum Angkut, Batu

Infant room terletak di zona gangster sebelum masuk zona Eropa. Setau saya cuman itu sih. Tempatnya imut, hanya ada satu kasur buat ganti popok, keran air, galon air. Nggak ada sofa tunggu atau menyusui. Tapi masih bisa dibilang terawat. Di beberapa toilet yang ada di museum angkut juga disediakan meja khusus untuk ganti popok. Jadi tinggal dibuka mejanya trus dikasih alas kain biar nggak keras2 amat langsung deh ganti popok.

5. Jawa Timur Park 2 (Batu secret zoo), Batu

Nah ini yang agak sedih...Hiks. jadi tau sendiri kan batu secret zoo segede apa. Tapi menurut info yang kami dapat dari petugas hanya ada dua ruang ibu dan anak. Yang pertama di toilet deket pintu masuk, yang kedua di sekitar foodcourt menuju pintu keluar. Masuklah saya ke ruang ibu dan anak yg di sekitar foodcourt, karena yang sebelumnya kita udah terlanjur masuk jadi nggak bisa ke ruang yang ada di luar deket pintu masuk. Jeng jeng... Ruangannya terlihat nggak terawat. Ada satu kasur buat ganti popok, dua bilik menyusui dengan kursi seadanya.. karena biasanya di baby Care lain disediain sofa, keran air yang mati, dan galon air yang kosong. Ditambah nggak ada kipas atau AC. Hmm..kayaknya emang perlu banget dapet perhatian khusus dari pengelolanya. Meskipun satu grup dengan museum angkut, tapi di toilet batu secret zoo nggak ada yang disediain meja untuk ganti popok juga. Padahal pengunjung bayi dan anak-anak yang membutuhkan juga lumayan banyak.

6. Ruang Tunggu Bandara Adi Soemarmo Solo

Cukup lengkap meskipun mungil, selalu mampir kesini sebelum boarding. Letaknya di ruang tunggu keberangkatan lantai dua, di antara musholla dan toilet wanita. Di dalamnya ada satu meja ganti popok, wastafel, dispenser air biasa dan hangat, tempat sampah dan sofa.
Wallpaper ruanganpun dibuat unyu-unyu khas ruang anak kecil.

Begitulah sedikit pengalaman bersama ruang ibu dan bayi di beberapa tempat umum. Semoga bermanfaat...

Wednesday, September 14, 2016

Pengantin Tanpa 'Pelaminan'

Nak, ayah dan ibumu dulu menikah tanpa ‘pelaminan’, jika pelaminan yang dimaksud adalah kursi pengantin yang cantik beserta dekorasinya yang manis. Kami menggunakan kursi plastik yang sama dengan para tamu undangan. 

Nak, ayah dan ibumu dulu memulai semuanya dengan sangat sederhana.. jika boleh dibilang seperti itu. Undangan pernikahan dibuat manual, dengan bantuan eyang putrimu dan eyang bulek, desainnya dari sahabat ibumu. Baju pengantin ibumu dibuat oleh budemu, sepupu ibumu, pun baju eyang putri sidorejo dan eyang putri margakarya. Tidak ada fotografer yang lengkap dengan payung2 atau berbagai efek lainnya, yang ada adalah sahabat ibumu yang menjadi fotografer dengan peralatan yang dia miliki. Tidak ada nyanyian2 ‘live show’ seperti yang biasa ada di pernikahan2 kekinian. Yang ada hanyalah alunan sederhana dari sound system sederhana milik eyang Om mu. 

Monday, June 6, 2016

Kasih Sayang yang Sama

Hal yang mungkin sudah disadari namun belum bisa dimaknai lebih.... adalah ketika kita bertambah usia, bertambah usia pulalah orang-orang di sekeliling kita. Ayah, ibu, nenek, kakek, suami, adek, kakak, guru, teman dll. Hingga kadang kita merasa terlalu 'biasa' dengan setiap pertemuan dengan mereka. Memang kematian tidak berbicara tentang usia, bukan hanya yang sepuh yang bisa mangkat duluan, karena Dialah yang Maha mengatur segala takdir.

Bulan Februari 2016 pada suatu hari Allah takdirkan sebagai pertemuan terakhir saya dengan nenek tersayang. Saat itu tentu saja tidak ada firasat atau perasaan apapun. Bahkan di saat-saat menjelang ke-balik-an saya ke Jakarta saat itu baru sempat bertemu dengan beliau. Ramadhan tinggal menghitung hari kala itu, tapi nenek sudah dipanggilNya.

Ketika bertambah usia kita, bertambah usia pula orang-orang disekeliling kita yang kita sayangi. Kasih sayang mereka tetap sama, mungkin mereka kadang masih menganggap kita gadis kecilnya yang manja sehingga perhatian yang diberikan sangat berlebih. Bahkan mungkin hal itu yang sering membuat lalai, bahwa mereka juga bertambah usia. Tidak akan sama seperti waktu kita kecil dulu, yang masih bisa menggendong kita, mendongengkan kisah-kisah dari berbagai belahan bumi, memberikan yang kita senangi, dan banyak lagi.

Masih tersimpan manis di laci, dompet kecil berisi dua buah alat pemotong kuku dan gunting kecil yang dibawakan oleh nenek sebelum saya hijrah ke Jakarta. Sesuatu yang mungkin terlihat biasa saja namun manfaatnya luar biasa. Rasanya masih terngiang kata-kata beliau setiap saya pamit untuk pulang ke rumah setelah menginap di rumahnya, masih teringat rasa nasi goreng dan mi jawa yang dulu dibuatkannya untuk saya, teh manis hangat yang tidak pernah ketinggalan disandingkannya ketika saya duduk di depan tv ruang keluarga, atau juga dongeng-dongeng yang dulu setia menemani saya sebelum tidur. Kita bertambah usia, begitu pula orang-orang disekeliling kita yang kita sayangi. Meski mungkin apa yang diberikan pada kita tidak pernah berubah. Kasih sayang yang sama.

Terimakasih mbah uti sayang...

Wednesday, March 23, 2016

koordinat yang sama

Tanggal ini setahun lalu mungkin kami masih merasakan euforia lombok. Perjalanan empat hari bersama laut, obrolan, dan makna perjalanan. Mulai dari tidur di mobil berteman nyamuk dan panasnya Surabaya, pertemuan dengan wajah2 lesu yang menunggu sedari beberapa jam lalu, pandangan mata yang berbeda dari sehari-hari, dekapan bukit dimana-mana, laut yang tidak berkesudahan, camping dengan nyanyian nyaring dari supri, mencicip warna-warninya kedalaman laut meski hanya dari permukaan, pembicaraan kesana kemari, kenangan yang mungkin masih lekat di kepala masing-masing.

Kini setahun kemudian, titik koordinat kita semakin berpencar. Madiun, Jakarta, Bekasi, Cilegon, Batam. Kapankah kita kembali berkumpul pada koordinat yang sama dengan suara deburan ombak, wangi laut dan juga mahakaryaNya yang lain... Kembali dengan pembicaraan remeh temeh sampai topik kebangsaan. Bersama kalian... yang Allah kirimkan sebagai salah satu paket lengkap dalam kehidupan yang mungkin singkat ini. Intinya mah kangen saya sama kamu..kamu..kamu... #eaaaa



Thursday, February 11, 2016

Hai Sahabat



dudu dan jendela lebar di lantai 2
Hai sahabat, aku meninggalkanmu begitu lamakah? baiklah...maafkan aku :) aku sempat nervous saat ingin menyapamu kembali.. hehe. Tidak, aku tidak punya hal sejenis lagi sepertimu sahabat, tapi aku mendapat 'paket lengkap' dariNya yang membuatku lama tak menyapamu. Tapi kini aku kembali rindu padamu sahabatku #mellow mendung kayak langit di luar sana.

Sekarang aku tinggal di salah satu sudut ibu kota negara Indonesia, hal yang dulunya sangat kuhindari, kau tau kan :) tapi kini malah aku menjadi salah satu pendatang yang entahlah menambah kebaikan atau malah menumpuk masalah yang sudah banyak di sini. Tapi aku hanya mencoba beradaptasi. Dan ternyata tidak seburuk yang kubayangkan sebelumnya, karena ya aku tidak terlibat di kemacetan yang konon seperti makanan sehari-hari di sini, aku pun tidak terlibat dalam persaingan mendapatkan ruang di dalam KRL yang selalu penuh di jam berangkat dan pulang kantor, aku tidak juga terlibat di hiruk pikuknya jalanan yang menawarkan segala hal di luar sana. Aku cukup berada di sepetak ruang di salah satu gang buntu di perumahan, sepi dari aktivitas kendaraan, jendela lebar di lantai dua yang membuatku selalu leluasa dalam memandang langit, menantikan jam pulang kantor untuk menyambutnya pulang, berinteraksi dengan saudara-saudara baru yang cukup menyenangkan, berjalan di lingkungan yang cukup nyaman.

Sesekali aku pernah menjadi salah satu orang yang menggenggam pegangan di atas kepala dalam KRL, sesekali aku pernah melihat padatnya jalanan, sesekali aku pernah melewati gang-gang sempit yang penuh dengan rumah di kanan-kirinya, sesekali aku juga pernah di terik matahari dalam kemacetan. Tapi hanya sesekali, bukan setiap hari.