Wednesday, September 14, 2016

Pengantin Tanpa 'Pelaminan'

Nak, ayah dan ibumu dulu menikah tanpa ‘pelaminan’, jika pelaminan yang dimaksud adalah kursi pengantin yang cantik beserta dekorasinya yang manis. Kami menggunakan kursi plastik yang sama dengan para tamu undangan. 

Nak, ayah dan ibumu dulu memulai semuanya dengan sangat sederhana.. jika boleh dibilang seperti itu. Undangan pernikahan dibuat manual, dengan bantuan eyang putrimu dan eyang bulek, desainnya dari sahabat ibumu. Baju pengantin ibumu dibuat oleh budemu, sepupu ibumu, pun baju eyang putri sidorejo dan eyang putri margakarya. Tidak ada fotografer yang lengkap dengan payung2 atau berbagai efek lainnya, yang ada adalah sahabat ibumu yang menjadi fotografer dengan peralatan yang dia miliki. Tidak ada nyanyian2 ‘live show’ seperti yang biasa ada di pernikahan2 kekinian. Yang ada hanyalah alunan sederhana dari sound system sederhana milik eyang Om mu. 

Monday, June 6, 2016

Kasih Sayang yang Sama

Hal yang mungkin sudah disadari namun belum bisa dimaknai lebih.... adalah ketika kita bertambah usia, bertambah usia pulalah orang-orang di sekeliling kita. Ayah, ibu, nenek, kakek, suami, adek, kakak, guru, teman dll. Hingga kadang kita merasa terlalu 'biasa' dengan setiap pertemuan dengan mereka. Memang kematian tidak berbicara tentang usia, bukan hanya yang sepuh yang bisa mangkat duluan, karena Dialah yang Maha mengatur segala takdir.

Bulan Februari 2016 pada suatu hari Allah takdirkan sebagai pertemuan terakhir saya dengan nenek tersayang. Saat itu tentu saja tidak ada firasat atau perasaan apapun. Bahkan di saat-saat menjelang ke-balik-an saya ke Jakarta saat itu baru sempat bertemu dengan beliau. Ramadhan tinggal menghitung hari kala itu, tapi nenek sudah dipanggilNya.

Ketika bertambah usia kita, bertambah usia pula orang-orang disekeliling kita yang kita sayangi. Kasih sayang mereka tetap sama, mungkin mereka kadang masih menganggap kita gadis kecilnya yang manja sehingga perhatian yang diberikan sangat berlebih. Bahkan mungkin hal itu yang sering membuat lalai, bahwa mereka juga bertambah usia. Tidak akan sama seperti waktu kita kecil dulu, yang masih bisa menggendong kita, mendongengkan kisah-kisah dari berbagai belahan bumi, memberikan yang kita senangi, dan banyak lagi.

Masih tersimpan manis di laci, dompet kecil berisi dua buah alat pemotong kuku dan gunting kecil yang dibawakan oleh nenek sebelum saya hijrah ke Jakarta. Sesuatu yang mungkin terlihat biasa saja namun manfaatnya luar biasa. Rasanya masih terngiang kata-kata beliau setiap saya pamit untuk pulang ke rumah setelah menginap di rumahnya, masih teringat rasa nasi goreng dan mi jawa yang dulu dibuatkannya untuk saya, teh manis hangat yang tidak pernah ketinggalan disandingkannya ketika saya duduk di depan tv ruang keluarga, atau juga dongeng-dongeng yang dulu setia menemani saya sebelum tidur. Kita bertambah usia, begitu pula orang-orang disekeliling kita yang kita sayangi. Meski mungkin apa yang diberikan pada kita tidak pernah berubah. Kasih sayang yang sama.

Terimakasih mbah uti sayang...

Wednesday, March 23, 2016

koordinat yang sama

Tanggal ini setahun lalu mungkin kami masih merasakan euforia lombok. Perjalanan empat hari bersama laut, obrolan, dan makna perjalanan. Mulai dari tidur di mobil berteman nyamuk dan panasnya Surabaya, pertemuan dengan wajah2 lesu yang menunggu sedari beberapa jam lalu, pandangan mata yang berbeda dari sehari-hari, dekapan bukit dimana-mana, laut yang tidak berkesudahan, camping dengan nyanyian nyaring dari supri, mencicip warna-warninya kedalaman laut meski hanya dari permukaan, pembicaraan kesana kemari, kenangan yang mungkin masih lekat di kepala masing-masing.

Kini setahun kemudian, titik koordinat kita semakin berpencar. Madiun, Jakarta, Bekasi, Cilegon, Batam. Kapankah kita kembali berkumpul pada koordinat yang sama dengan suara deburan ombak, wangi laut dan juga mahakaryaNya yang lain... Kembali dengan pembicaraan remeh temeh sampai topik kebangsaan. Bersama kalian... yang Allah kirimkan sebagai salah satu paket lengkap dalam kehidupan yang mungkin singkat ini. Intinya mah kangen saya sama kamu..kamu..kamu... #eaaaa



Thursday, February 11, 2016

Hai Sahabat



dudu dan jendela lebar di lantai 2
Hai sahabat, aku meninggalkanmu begitu lamakah? baiklah...maafkan aku :) aku sempat nervous saat ingin menyapamu kembali.. hehe. Tidak, aku tidak punya hal sejenis lagi sepertimu sahabat, tapi aku mendapat 'paket lengkap' dariNya yang membuatku lama tak menyapamu. Tapi kini aku kembali rindu padamu sahabatku #mellow mendung kayak langit di luar sana.

Sekarang aku tinggal di salah satu sudut ibu kota negara Indonesia, hal yang dulunya sangat kuhindari, kau tau kan :) tapi kini malah aku menjadi salah satu pendatang yang entahlah menambah kebaikan atau malah menumpuk masalah yang sudah banyak di sini. Tapi aku hanya mencoba beradaptasi. Dan ternyata tidak seburuk yang kubayangkan sebelumnya, karena ya aku tidak terlibat di kemacetan yang konon seperti makanan sehari-hari di sini, aku pun tidak terlibat dalam persaingan mendapatkan ruang di dalam KRL yang selalu penuh di jam berangkat dan pulang kantor, aku tidak juga terlibat di hiruk pikuknya jalanan yang menawarkan segala hal di luar sana. Aku cukup berada di sepetak ruang di salah satu gang buntu di perumahan, sepi dari aktivitas kendaraan, jendela lebar di lantai dua yang membuatku selalu leluasa dalam memandang langit, menantikan jam pulang kantor untuk menyambutnya pulang, berinteraksi dengan saudara-saudara baru yang cukup menyenangkan, berjalan di lingkungan yang cukup nyaman.

Sesekali aku pernah menjadi salah satu orang yang menggenggam pegangan di atas kepala dalam KRL, sesekali aku pernah melihat padatnya jalanan, sesekali aku pernah melewati gang-gang sempit yang penuh dengan rumah di kanan-kirinya, sesekali aku juga pernah di terik matahari dalam kemacetan. Tapi hanya sesekali, bukan setiap hari.

Tuesday, October 27, 2015

Dua Pasang Alas Kaki


dua pasang alas kaki yang akhirnya bertemu, meski saling terdiam lama, namun akhirnya Sang Pemilik hidup mempertemukan keduanya
dua pasang alas kaki yang dulu berbeda arah, saling merapat pada sisi yang berbeda, namun akhirnya Sang Pengatur arah membiarkan mereka bersisian
dua pasang alas kaki, yang kini melangkah menuju satu tujuan yang sama... insyaa Allah